Senyum Terakhir Mama
Awan- awan kelabu masih saja betah menyelimuti hatiku. Entah mengapa sang surya enggan mengusir awan-awan kelabu itu. Air mataku terus menbasahi makam mamaku, kusandarkan pipiku di atas batu nisan itu. Disaat aku masih terhanyut dalam kesedihanku, tiba-tiba hujan datang mengguyur bumi. Seakan-akan ikut bersedih atas kepergian mamaku. Masih terlukis jelas di pikiranku dengan kejadian yang takkan pernah kulupakan.
“Papa………” teriakku sambil memeluk jasad papa yang sudah terbujur kaku tanpa nyawa.
“Lila, sudah nak! Iklaskan kepergian papamu.” Ucap mama sambil memelukku. Tetapi, air mataku terus saja mengucur dengan deras. Aku masih tak percaya papa yang aku sayangi pergi meninggalkan ku dan mama. Mama mencoba untuk tegar menenangkanku,tapi aku tahu sebenarnya mama seribu kali lebih sakit daripada aku. Kupeluk mamaku dengan erat dan berkata dalam hati, aku akan selalu menjaga mama sampai maut menjemput. Kini papa telah pergi hanya tinggalah aku dan mama.
Hariku dan mama begitu terasa berat. Yah….. maklum saja papa sebagai tulang punggung keluargaku kini telah pergi. Mama harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga kami. Rumahku yang semula sepi kini menjadi ramai karena suara mesin jahit yang khas selalu mewrnai rumah kami. Mesin jahit usang yang tak pernah tersentuh, kini menjadi teman mama sehari-hari.
Dari matahari memencarkan cahayanya hingga bulan menyembunyikan cahayanya, mama tetap saja menjalankan mesin jahitnya. Terus kuamati wajah mama yang begitu tegar.
“Mama nggak tidur? Ini kan sudah malam.” Ucapku pada mama.
“Iya, nanti saja. Sedikit lagi juga selesai, kamu tidur saja duluan!” ucap mama sambil terus menjahit.
“Lila mau temani mama sampai jahitannya selesai.” Jawabku. Mama hanya tersenyum kecil dan terus manjahit.
“Ukh….. ukh….” Tiba-tiba mama batuk.
“Mama kenapa? Mama sakit?” tanyaku pada mama.
“Ukh….. ukh….”Mama nggak apa-apa kok.” Ucap mama sambil terus terbatuk-batuk dan menutup mulutnya dengan tangan.
Kupeluk erat mamaku, suhu tubuhnya begitu panas. Aku sangat kwatir, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat tangan dan bibir berlumuran darah.
“Mama berdarah!” ucapku dengan perasaan yang kwatir.
“Mama nggak apa-apa kok.” Jawab mama lirih.
“Nggak apa-apa gimana? Mama batuk darah. Pokoknya mama harus istirahat, biar lila yang nyelesain jahitan ini.” Ucapku. Lagi-lagi mama hanya tersenyum kecil dan terus berjalan ke kamar. Melihat senyum mama itu aku sangat takut kehilangan mama. Aku tak ingin melihat senyum itu untuk yang terakhir kalinya. Aku mencoba menenangkan diri dan berkata dalm hati, semua akan baik-baik saja. Aku langsung melanjutkan jahitan mama yang tadi belum selesai.
Malam mulai menghembuskan udara dingin. Akhirnya pekerjaanku usai, aku mulai bergegas tidur. Kulihat wajah mama yang begitu tenang. Siapa sangka wajah yang terlihat begitu tenng ternyata menyimpan begitu banyak kesedihan dan penderitaan. Kuselimuti tubuh mamaku, kulihat mamaku begitu aneh, sekujyr tubuhnya begitu dingin. Nafasnya pun tak lagi berhembus. Air mataku mulai menetes, kupeluk tubuh mama erat-erat. Kekawatiranku terjawab, ternyata senyum itu adalah senyum terakhir mama. Mama yang begitu aku sayangi kini telah pergi membawa sejuta kepedihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar